Sabtu, 02 Juni 2012

BUKAN SALAH BUNDAKU


BUKAN SALAH BUNDAKU


Keluarga Pak Budi adalah keluarga yang sangat kaya. Dia hidup bersama istri dan seorang anak yang bernama Rista.namun setelah Rista berusia 10 tahun, ayahnya meninggal dunia karena terserang penyakit jantung. Lama kelamaan kehidupan mereka semakin memburuk, persahaan Pak Budi gulung tikar akibat tidak ada yang mengelola. Karena hal tersebut, anaknya tidak bisa menerima kenyataan yang menmpa keluarganya.
Ibu      : “Nak, ibu sudah menyiapkan makanan untukmu.
Mumpung masih hangat, ayo kita makan bersama !”
Rista   : “Nggak , aku nggak mau! Nanti aja aku sarapan di sekolah.”
Ibu      : “Tapi nak, ibu sudah terlanjur menyiapkannya.”
Rista   : “Udah ah, aku malas !”
Ibu      : “Sebentar nak, ibu mau bicara sama kamu!”
Rista   : “Apa lagi sih ? Aku tu udah malas ngomong sama mama.”
Ibu      : “Nak, mama mau ngomong sama kamu.”
Rista   : “Soal apa ? Papa! Udahlah ma, jangan bahas soal itu lagi!”
Ibu       : “Tapi nak, mengapa kamu berubah seperti ini? Mama tau, kamu nggak bisa menerima kenyataan ini, tapi setidaknya kamu mau menghomati mama sebagai orang tuamu. Apakah semua yang mama berikan ke kamu kurang? Kamu tidak puas? Terus mau kamu apa? Apa mama harus mencari uang lebih untuk kamu ??”
Rista   : “Udah ma ngomongnya! Aku capek ngmong sama mama. Aku berangkat!”
Ibu      : “Sebentar nak, mama belum selesai bicara.”
( Rista pun langsung meninggalkan ibunya tanpa pamit )
Ibu      : “Ya Allah, mengapa anakku seperti itu, sabarkanlah dia ya Allah !”
Di sekolah yang dulu milik ayahnya itu, disanalah Rista bersekolah. Rista memiliki dua teman yang sangat dekat dengannya, yaitu Risma dan Citra. Mereka bertiga membuat geng. Setiap hari mereka selalu membuat ulah. Saat bel istirahat berbunyi, Rista dan kedua temannya tersebut memarahi salah satu adik kelasnya yang bernama Dinda. Karena telah dikira pacaran dengan pacar Rista.
Risma             : “Bos…bos ! Ada kabar buruk.”
Rista   : “Kabar buruk apa maksud kalian?”
Citra    : “Bos taukan anak baru di sekolah kita?Kemarin tuh sepulang sekolah, gue ngliat Dinda sama pacar loe.”
Rista   : “Apa loe bilang ? Serius !”
Risma dan Citra : “Ya bos.. Suer !”
Rista   : “Tuh anak ya, nggak bisa di diemin. Gue harus kasih pelajaran sama dia.
Loe berdua ikut gue !”
Sesampainya di kelas Dinda, Rista langsung memarahinya dengan sangat keras.
Rista   : “Heh, kere ! Sini loe !
Lo masih mau cari gara-gara sama gue?”
Dinda : “Cari gara-gara apa kak ?”
Rista   : “Pake nanya lagi. Pulang sekolah kemarin loe sama cowok gue kan ?”
Dinda :” Cowok yang mana ya kak ?”
Rista   : “Udahlah… capek gue ngmong sama loe! Gue kasih tau sama loe “Kalo lo masih cari gara-gara sama gue, loe bakal nyesel!”
Bel pulangpun berbunyi, Rista dan teman-temanyya pulang. Sesampainya di rumah, Rista dan teman-temannya langsung masuk tanpa mengetuk pintu.
Rista   : “Ma..! Tolong bikini minum dong, but temen-temenku !”
Ibu      : “Kamu nyuruh mama ?”
Rista   : “Ya iyalah ma, siapa lagi ?”
Ibu      : “Mama nggak mau. Itukan teman-teman kamu, jadi kamu yang harus buatin minumannya. Lagi pula mama masih nyapu.”
Rista   : “Ma, kalo mama nggak mau, nggak usah nyolot ! Ya udahlah, sana mama.”
Ibu      : “Ada satu hal yang mama mau bicarain sama kamu, nak.”
Rista   : “Apa lagi sih ma ?”
Ibu      : “Rencananya, mama mau mencari pekerjaan di luar negri. Mama akan berangkata nanti sore, kamu mama tinggal nggak papa kan ?”
Rista   : “Oh, silakan ma! Sekarang aja nggak papa.”
Ibu      : “Kamu ini ya, sama sekali nggak menghormati mama.”
Rista   : “Perlu ya ma ….?!”
Mamanya pun langsung meninggalkannya dan memasukkan pakainnya ke dalam tas. Mamanya pun segera pergi.
Risma             : “Lho…lho…lho , Ris, mama kamu mau kemana sih?”
Rista   : “Nggak tau tu! Bodo amat gue!”
Rista   : “Ya udahlah, nggak usah bahas itu lagi. Males !”
Risma             : “Ya sorry ..”
Rista   : “Minum-minum! Chirs ya.”
(Mereka bertiga) : “Chiiirsh!”
Keesokan harinya, Bu Lalak menelpon Dinda untuk menitipkan anaknya pada Dinda.
Bu Lalak : (Kring…kring..kring..)” Assalamu’alaikum”
Dinda    : “Walaikum salam. Eh tante, ada apa tante kok tumben menelpon saya?”
Bu Lalak : “Begini Din, tante mau minta tolong sama kamu. Selama tante pergi ke luar negri, tolong kamu jaga Kak Rista ya!”
Dinda    : “Iya tante. Memangnya berapa lama tante akan pergi?”
Bu Lalak : “Mungkin hanya setahum aja kok Din. Ya sudah, terimakasih ya Din!
Assalamu’alaikum.”
Dinda  : “Iya tante. Walaikum salam.” (Dinda pergi kerumah Rista)
        Ketika pulang sekolah, Rista dan kedua temannya pulang
Rista   : “Ayo temen-temen masuk!
Bentar ya, gue ambilin minum dulu.”
Risma dan Citra : “Eitz, sekalian sama rokoknya ya.”
Rista   : “Ya gampang!” (Rista mengambil minum)
Ketika akan mengambil minum, Rista kaget ketika melihat Dinda di kamarnya. Diapun marah-marah.
Rista   : “Ngapain loe disini ? Gue nggak suka loe ada disini. Apa lagi loe tidur di kamar gue. Gak ngomong-ngomong lagi. Loe ngomong aja gue nggak ijinin!”
Dinda : “Maaf ya kak kalau aku lancing. Tapi aku itu disuruh menjaga kakak.”
Rista   : “Jagain gue?”
Dinda : “Iya kak. Kan kakak di rumah sendiri, jadi aku harus nemenin kakak biar kakak nggak kesepian.”
Rista   :”Ouw… jadi loe disuruh sama nyokap gue?”
Dinda : “Ya kak.”
Rista   : “Loe kok mau ya ?”
Mendengar suara pembicaraan mereka yang sangat keras, Citra dan Risma menyusul Rista ke kamar.
Citra    : “Lho Ris, kok loe bisa sama kere disini?”
Risma             : “Bukannya loe sebel banget sama dia ?”
Rista   : “Critanya panjang, nanti gue critain. Ya udah, kalian keluar dulu ya, gue mau ngomong sama si kere dulu.”
Dinda  :”Kak, aku ini punya nama, nama saya Dinda.”
Rista   : “Nggak nanya tuh !”
Risma             : “Ya udah gue tinggal dulu.” (Risma dan Citra meninggalkan ruangan)
Rista   : “Gue udah capek ngomong sama loe. Mending loe keluar dari rumah gue!”
Dinda : “Tapi kak, aku ini kan… (Sebelum Dinda selesai bicara, Rista memotong pembicaraannya)
Rista   : “Udah… udah… udah.. Loe boleh tinggal disini.”
Dinda : “Terimakasih ya kak!”
            (Rista meninggalkan Dinda tanpa menggubris omongannnya)
Bel pulang sekolah berbunyi. Semua siswa pulang tak terkecuali dengan Rista dan teman-temannya. Nanti malam mereka janjian akan pergi ke suatu tempat.
Malam harinya, Citra dan Risma menjemput Rista di rumahnya.
Citra dan Risma : “(Tok…tok…tok…)
Rista   : “Hey kalian, masuk yuk !”
Citra    : “Nggak usahlah.”
Risma             : “Iya. Nanti malah telat.”
        (Tiba-tiba Dinda muncul)
Dinda : “Kak, kakak mau kemana malem-malem gini ?”
Rista   : “Loe nggak usah tau gue mau kemana!”
Dinda : “Tapi kak..”
Rista   : “Udah deh. Ok! Gue mau ngerjain tugas ma temen-temen gue.”
Dinda : “Oh ya sudah, tapi kakak jangan pulang malem-malem ya!”
Rista   : “Terserah gue dong!”
Dinda : “Ya sudah, jaga diri kakak.” (Rista meninggalkan Dinda tanpa pamit)
Sesampainya disana, Rista dan teman-temannya berpesta. Mereka klabing sambil mabuk-mabkkan. Pada saat itu pula, Bu Sari melihat mereka di tempat tersebut. Kemudian Bu Sari menelpon Dinda dan menyuruhnya datang ke tempat itu.
Ibu Sari : (Kring…Kring…kring…) “Halo Dinda!”
Dinda     : “Iya Bu, ada apa ya?”
Ibu Sari : “Din, Ibu melihat Kak Rista sedang klabing disini. Kamu cepat kesini ya, nanti Ibu smsin alamatnya!”
Dinda     : “Iya Bu!”
            (Dinda pum segera datang)
Dinda     : “Bu, mengapa Ibu menyuruh saya datang kesini ?”
Ibu Sari : “Di dalam sana ada kakak kamu Din, jadi Ibu menyuruh kamu datang.”
Dinda     : “Lho, bukannya Kak Rista tadi pamit untuk mengerjakan tugas. Kok sekarang Ibu bilang disini ?”
Ibu Sari : “Kamu itu dibohongi sama kakak kamu. Sekarang mendin kamu tunggu disini, biar Ibu yang masuk untuk membawa Kak Rista kesini.”
Dinda : “Baik Bu!”
(Ibu Sari masuk ke tempat tersebut)
Ibu Sari : “Ayo Rista, kita pulang!”
Rista      : “Lho, Bu Sari kok ada disini? (Dengan keadaan mabuk)
Ibu mau ikut klabing juga ya?”
Ibu Sari : “Kamu mabuk berat ya, omongan kamu ngawur gitu ?”
Rista      : “Nggak Bu, aku nggak mabuk. Cuma minum aja kok!”
Ibu Sari : “Sama saja. Ya sudah cepat pulang! Sini biar Ibu bantu.”
Rista      : “Nggak usah Bu, aku bisa jalan sendiri.”
Ibu Sari : “Sudahlah!”
Ibu Sari, Rista dan Dinda pulang bersama. Kemudian Dinda menolong Rista Sampai mereka sampai di rumah. Hari demi hari mereka lewati bersama. Setiap hari Rista selalu menyuruh Dinda dengan seenaknya. Sampai suatu hari, Dinda tidak bisa menahan amarahnya.
Dinda : “Kak, aku udah nggak kuat dengan kelakuan kakak setap hari! Kakak selalu saja menyuruhku dengan seenaknya. Kakak nggak pernah mikirin perasaanku! Kakak tidak mau meberi kesempatan aku untuk ngmong, kakak nggak mau mengalah, kakak nggak bisa ngertiin aku. Kakak egois!”
Rista   : “Ok..ok ! Udah ngomongnya ?”
Dinda : “Kak, tolong dengerin aku!”
Rista   : “Gue nggak butuh curhat loe. Ngerti!” (Rista meninggalkannya dan Dinda pun menagis)
Dinda menelpon Ibu Sari dan menuryhnya dating ke rumah. Ibu Saripun datang.
Ibu Sari : “Ada apa Din? Mengapa kamu menangis, nak ?”
Dinda     : “Aku sudah nggak kuwat dengan kelakuan Kak Rista, Bu.”
Ibu Sari : “Dinda, kamu harus sabar, kamu harus tabah nak. Kamu pasti bisa!”
Dinda     : “Aku sudah nggak kuwat lagi Bu. Tolong aku!” (Dengan menangis)
Ibu Sari : “Ibu mengerti dengan perasaan kamu. Tapi mana mungkin kamu meninggalkan rumah ini.”
Dinda     : “Iya Bu. Tapi aku harus berbuat apa lagi ?”
Ibu Sari : “Ya sudah, mendingan kamu sekarang sholat dulu, untuk menenangkan pkiran kamu. Kamu mohon kepada Allah uuntuk member kesabaran lebih dan jalan keluar yang terbaik.”
Dinda     : “Iya Bu, terimakasih.”
Ibu Sari : “Ya sudah, Ibu tinggal dulu ya. Assalamu’alaikum.”
Dinda    : “Walaikum salam.”
Keesokan harinya, Rista menghampiri Dinda yang sedang menagis di kamarya.
Rista   : “Heh loe! Udah deh nggak usah pakek nagis segala. Gue tahu gue salah, ok… sory sory! Ya emang selama ini gue kasar sama loe, tapi sebenarnya gue nggak ermaksud untuk nyakirin loe. Loe nggak tau kan perasaan gue gimana ? Gue tuh lebih sengsara dari loe. Tapi gue ngggak kayak loe yang dikit-dikit nagis, dikit-dikit nangis. Sekali lagi gue minta maaf!”
Dinda : “Kakak…”(Memeluk Rista)
Rista   : “Udah … udah …udah, sekarang mau loe apa?”
Dinda : “Kakak bener nanya seperti itu sama aku?”
Rista   : “Iya.”
Dinda : “Bener ya kak?”
Rista   : “Iya iya. Pakek nanya mulu lagi. Crewet banget sih!”
Dinda : “Aku cuma mau kakak sadar, kakak berubah, kakak harus seperti kakak yang dulu. Kakak nggak boleh kasar. Satu hal lagi, kakak harus minta maaf sama mama kakak!”
Rista   : “Sebenarnya apa sih maksud loe ngomong gitu?”
Dinda : “Kakak tau, Kakak itu beruntung masih punya ibu yang sayang sama kakak. Sedangkan aku…kedua orang tuaku sudah tidak ada kak, kalau perlu kakak sujud dihadapannya.”
Rista   : “Menurut loe, buat apa sih gue lakuin itu ?”
Dinda : “Kakak. Semua ibu pasti merasa kecewa kalau anaknya seperti kakak.
Kakak mau kan melakukan itu? Demi mama kak!”
Rista   : “Ya udah, kakak lakuin itu. Kakak akan berubah.”
Dinda : “Teimakasih ya kak! Aku sayang sama kakak!” (Memeluk Rista)
            Satu tahun kemudian, Ibu Lalak pulang dari luar negri. Ketika sampai di rumah, kebetulan Bu Sari, Dinda, Rista dan kedua temannya sedang berkumpul di rumah.
Bu Lalak : “(Tok…tok…tok…)
            Dinda membukakan pintu dan Rista segera melihat siapa yang datang.
Rista      : “Mama..!” (Memeluk ibunya dan langsung bersujud di hadapannya)
Bu Lalak : “Sudah-sudah nak, berdiri!”
Rista      : “Ma, maafin aku selama ini. Aku sudah buat mama kecewa.
Aku minta maaf Ma!”
Bu Lalak : “Iya iya. Sudah nak, Mama sudah memafkan kamu dari dulu.”
Rista      : “Benar Ma?”
Bu Lalak : “Ya.”
Rista      : “Makasih ya, Ma!”
Ibu Sari : “Rista, kok mamanya nggak diajak duduk?”
Rista      : “Oh ya. Maaf Bu, aku sampai lupa.
Silakan duduk, Ma. Mama mau minum apa?’
Bu Lalak : “Suda, nggakusah repot-repot, mama nggak haus kok. Kalian disisni saja, Mama sudah senang kok. Ibu Sari, saya mengucapkan terimakasih pada Ibu. Ibu sudah menjaga anak saya.”
Ibu Sari : “Justru bukan saya Bu, yang membuat Rista seperti ini. Tapi Dindalah yang menyadarkannya.”
Bu Lalak : “Terimakasih ya nak. Tante bangga sama kamu!”
Dinda : “Ya, sama-sama tante.!”
            Rista pun kembali patuh dengan ibunya, dan Dinda juga diangkat menjadi anak oleh Ibu Lalak. Akhirnyapun mereka hidup bahagia selamanya.











Tidak ada komentar: