BUKAN
SALAH BUNDAKU
Keluarga Pak Budi
adalah keluarga yang sangat kaya. Dia hidup bersama istri dan seorang anak yang
bernama Rista.namun setelah Rista berusia 10 tahun, ayahnya meninggal dunia karena
terserang penyakit jantung. Lama kelamaan kehidupan mereka semakin memburuk, persahaan
Pak Budi gulung tikar akibat tidak ada yang mengelola. Karena hal tersebut,
anaknya tidak bisa menerima kenyataan yang menmpa keluarganya.
Ibu : “Nak, ibu
sudah menyiapkan makanan untukmu.
Mumpung masih hangat, ayo kita
makan bersama !”
Rista : “Nggak , aku
nggak mau! Nanti aja aku sarapan di sekolah.”
Ibu : “Tapi nak,
ibu sudah terlanjur menyiapkannya.”
Rista : “Udah ah, aku
malas !”
Ibu : “Sebentar
nak, ibu mau bicara sama kamu!”
Rista : “Apa lagi sih
? Aku tu udah malas ngomong sama mama.”
Ibu : “Nak, mama
mau ngomong sama kamu.”
Rista : “Soal apa ?
Papa! Udahlah ma, jangan bahas soal itu lagi!”
Ibu : “Tapi nak, mengapa kamu berubah seperti
ini? Mama tau, kamu nggak bisa menerima kenyataan ini, tapi setidaknya kamu mau
menghomati mama sebagai orang tuamu. Apakah semua yang mama berikan ke kamu
kurang? Kamu tidak puas? Terus mau kamu apa? Apa mama harus mencari uang lebih
untuk kamu ??”
Rista : “Udah ma ngomongnya! Aku capek ngmong sama
mama. Aku berangkat!”
Ibu
: “Sebentar nak, mama belum selesai
bicara.”
( Rista pun langsung
meninggalkan ibunya tanpa pamit )
Ibu
: “Ya Allah, mengapa anakku seperti
itu, sabarkanlah dia ya Allah !”
Di sekolah yang dulu milik
ayahnya itu, disanalah Rista bersekolah. Rista memiliki dua teman yang sangat
dekat dengannya, yaitu Risma dan Citra. Mereka bertiga membuat geng. Setiap
hari mereka selalu membuat ulah. Saat bel istirahat berbunyi, Rista dan kedua
temannya tersebut memarahi salah satu adik kelasnya yang bernama Dinda. Karena
telah dikira pacaran dengan pacar Rista.
Risma : “Bos…bos ! Ada kabar buruk.”
Rista : “Kabar buruk apa maksud kalian?”
Citra : “Bos taukan anak baru di sekolah kita?Kemarin
tuh sepulang sekolah, gue ngliat Dinda sama pacar loe.”
Rista : “Apa loe bilang ? Serius !”
Risma
dan Citra : “Ya bos.. Suer !”
Rista : “Tuh anak ya, nggak bisa di diemin. Gue
harus kasih pelajaran sama dia.
Loe
berdua ikut gue !”
Sesampainya
di kelas Dinda, Rista langsung memarahinya dengan sangat keras.
Rista : “Heh, kere ! Sini loe !
Lo masih
mau cari gara-gara sama gue?”
Dinda : “Cari gara-gara apa kak ?”
Rista : “Pake nanya lagi. Pulang sekolah kemarin loe
sama cowok gue kan ?”
Dinda :” Cowok yang mana ya kak ?”
Rista : “Udahlah… capek gue ngmong sama loe! Gue
kasih tau sama loe “Kalo lo masih cari gara-gara sama gue, loe bakal nyesel!”
Bel pulangpun
berbunyi, Rista dan teman-temanyya pulang. Sesampainya di rumah, Rista dan
teman-temannya langsung masuk tanpa mengetuk pintu.
Rista : “Ma..! Tolong bikini minum dong, but
temen-temenku !”
Ibu
: “Kamu nyuruh mama ?”
Rista : “Ya iyalah ma, siapa lagi ?”
Ibu
: “Mama nggak mau. Itukan teman-teman
kamu, jadi kamu yang harus buatin minumannya. Lagi pula mama masih nyapu.”
Rista : “Ma, kalo mama nggak mau, nggak usah nyolot
! Ya udahlah, sana mama.”
Ibu
: “Ada satu hal yang mama mau
bicarain sama kamu, nak.”
Rista : “Apa lagi sih ma ?”
Ibu : “Rencananya, mama mau mencari pekerjaan
di luar negri. Mama akan berangkata nanti sore, kamu mama tinggal nggak papa
kan ?”
Rista : “Oh, silakan ma! Sekarang aja nggak papa.”
Ibu
: “Kamu ini ya, sama sekali nggak
menghormati mama.”
Rista : “Perlu ya ma ….?!”
Mamanya pun langsung
meninggalkannya dan memasukkan pakainnya ke dalam tas. Mamanya pun segera
pergi.
Risma
: “Lho…lho…lho , Ris, mama
kamu mau kemana sih?”
Rista : “Nggak tau tu! Bodo amat gue!”
Rista : “Ya udahlah, nggak usah bahas itu lagi. Males
!”
Risma : “Ya sorry ..”
Rista : “Minum-minum! Chirs ya.”
(Mereka
bertiga) : “Chiiirsh!”
Keesokan harinya, Bu
Lalak menelpon Dinda untuk menitipkan anaknya pada Dinda.
Bu
Lalak : (Kring…kring..kring..)” Assalamu’alaikum”
Dinda
: “Walaikum salam. Eh tante, ada apa
tante kok tumben menelpon saya?”
Bu Lalak
: “Begini Din, tante mau minta tolong sama kamu. Selama tante pergi ke luar
negri, tolong kamu jaga Kak Rista ya!”
Dinda
: “Iya tante. Memangnya berapa lama
tante akan pergi?”
Bu
Lalak : “Mungkin hanya setahum aja kok Din. Ya sudah, terimakasih ya Din!
Assalamu’alaikum.”
Dinda : “Iya tante. Walaikum salam.” (Dinda pergi kerumah Rista)
Ketika
pulang sekolah, Rista dan kedua temannya pulang
Rista : “Ayo temen-temen masuk!
Bentar
ya, gue ambilin minum dulu.”
Risma dan Citra : “Eitz,
sekalian sama rokoknya ya.”
Rista : “Ya gampang!” (Rista mengambil minum)
Ketika
akan mengambil minum, Rista kaget ketika melihat Dinda di kamarnya. Diapun
marah-marah.
Rista
: “Ngapain loe disini ? Gue nggak suka
loe ada disini. Apa lagi loe tidur di kamar gue. Gak ngomong-ngomong lagi. Loe
ngomong aja gue nggak ijinin!”
Dinda
: “Maaf ya kak kalau aku lancing. Tapi
aku itu disuruh menjaga kakak.”
Rista
: “Jagain gue?”
Dinda
: “Iya kak. Kan kakak di rumah sendiri, jadi
aku harus nemenin kakak biar kakak nggak kesepian.”
Rista
:”Ouw… jadi loe disuruh sama nyokap
gue?”
Dinda
: “Ya kak.”
Rista
: “Loe kok mau ya ?”
Mendengar
suara pembicaraan mereka yang sangat keras, Citra dan Risma menyusul Rista ke
kamar.
Citra : “Lho Ris, kok loe bisa sama kere disini?”
Risma : “Bukannya loe sebel banget sama dia ?”
Rista : “Critanya panjang, nanti gue critain. Ya udah, kalian keluar dulu
ya, gue mau ngomong sama si kere dulu.”
Dinda :”Kak, aku ini punya nama, nama saya Dinda.”
Rista : “Nggak nanya tuh !”
Risma : “Ya udah gue tinggal dulu.” (Risma dan Citra
meninggalkan ruangan)
Rista : “Gue udah capek ngomong sama loe. Mending loe keluar dari rumah
gue!”
Dinda : “Tapi kak, aku ini kan… (Sebelum Dinda selesai bicara, Rista memotong
pembicaraannya)
Rista : “Udah… udah… udah.. Loe boleh tinggal disini.”
Dinda : “Terimakasih ya kak!”
(Rista
meninggalkan Dinda tanpa menggubris omongannnya)
Bel
pulang sekolah berbunyi. Semua siswa pulang tak terkecuali dengan Rista dan
teman-temannya. Nanti malam mereka janjian akan pergi ke suatu tempat.
Malam harinya, Citra
dan Risma menjemput Rista di rumahnya.
Citra dan Risma :
“(Tok…tok…tok…)
Rista : “Hey kalian, masuk yuk !”
Citra : “Nggak usahlah.”
Risma : “Iya. Nanti malah telat.”
(Tiba-tiba
Dinda muncul)
Dinda : “Kak, kakak mau kemana malem-malem gini ?”
Rista : “Loe nggak usah tau gue mau kemana!”
Dinda : “Tapi kak..”
Rista : “Udah deh. Ok! Gue mau ngerjain tugas ma
temen-temen gue.”
Dinda : “Oh ya sudah, tapi kakak jangan pulang
malem-malem ya!”
Rista : “Terserah gue dong!”
Dinda : “Ya sudah, jaga diri kakak.” (Rista
meninggalkan Dinda tanpa pamit)
Sesampainya disana,
Rista dan teman-temannya berpesta. Mereka klabing sambil mabuk-mabkkan. Pada
saat itu pula, Bu Sari melihat mereka di tempat tersebut. Kemudian Bu Sari menelpon
Dinda dan menyuruhnya datang ke tempat itu.
Ibu Sari : (Kring…Kring…kring…)
“Halo Dinda!”
Dinda : “Iya Bu, ada apa ya?”
Ibu
Sari : “Din, Ibu melihat Kak Rista sedang klabing disini. Kamu cepat kesini ya,
nanti Ibu smsin alamatnya!”
Dinda
: “Iya Bu!”
(Dinda pum segera datang)
Dinda : “Bu, mengapa Ibu menyuruh saya datang kesini ?”
Ibu Sari : “Di dalam sana ada
kakak kamu Din, jadi Ibu menyuruh kamu datang.”
Dinda
: “Lho, bukannya Kak Rista tadi pamit
untuk mengerjakan tugas. Kok sekarang Ibu bilang disini ?”
Ibu
Sari : “Kamu itu dibohongi sama kakak kamu. Sekarang mendin kamu tunggu disini,
biar Ibu yang masuk untuk membawa Kak Rista kesini.”
Dinda : “Baik Bu!”
(Ibu Sari masuk ke tempat tersebut)
Ibu
Sari : “Ayo Rista, kita pulang!”
Rista
: “Lho, Bu Sari kok ada disini?
(Dengan keadaan mabuk)
Ibu mau ikut klabing juga ya?”
Ibu Sari : “Kamu mabuk berat ya,
omongan kamu ngawur gitu ?”
Rista : “Nggak Bu, aku nggak mabuk. Cuma minum aja kok!”
Ibu Sari : “Sama saja. Ya sudah
cepat pulang! Sini biar Ibu bantu.”
Rista : “Nggak usah Bu, aku bisa jalan sendiri.”
Ibu Sari : “Sudahlah!”
Ibu Sari, Rista dan
Dinda pulang bersama. Kemudian Dinda menolong Rista Sampai mereka sampai di
rumah. Hari demi hari mereka lewati bersama. Setiap hari Rista selalu menyuruh
Dinda dengan seenaknya. Sampai suatu hari, Dinda tidak bisa menahan amarahnya.
Dinda : “Kak, aku udah nggak kuat dengan kelakuan
kakak setap hari! Kakak selalu saja menyuruhku dengan seenaknya. Kakak nggak
pernah mikirin perasaanku! Kakak tidak mau meberi kesempatan aku untuk ngmong,
kakak nggak mau mengalah, kakak nggak bisa ngertiin aku. Kakak egois!”
Rista : “Ok..ok ! Udah ngomongnya ?”
Dinda : “Kak, tolong dengerin aku!”
Rista : “Gue nggak butuh curhat loe. Ngerti!” (Rista
meninggalkannya dan Dinda pun menagis)
Dinda menelpon Ibu
Sari dan menuryhnya dating ke rumah. Ibu Saripun datang.
Ibu Sari : “Ada apa Din? Mengapa
kamu menangis, nak ?”
Dinda : “Aku sudah nggak kuwat dengan kelakuan Kak Rista, Bu.”
Ibu Sari : “Dinda, kamu harus
sabar, kamu harus tabah nak. Kamu pasti bisa!”
Dinda : “Aku sudah nggak kuwat lagi Bu. Tolong aku!” (Dengan menangis)
Ibu
Sari : “Ibu mengerti dengan perasaan kamu. Tapi mana mungkin kamu meninggalkan
rumah ini.”
Dinda : “Iya Bu. Tapi aku harus berbuat apa lagi ?”
Ibu
Sari : “Ya sudah, mendingan kamu sekarang sholat dulu, untuk menenangkan pkiran
kamu. Kamu mohon kepada Allah uuntuk member kesabaran lebih dan jalan keluar
yang terbaik.”
Dinda
: “Iya Bu, terimakasih.”
Ibu
Sari : “Ya sudah, Ibu tinggal dulu ya. Assalamu’alaikum.”
Dinda
:
“Walaikum salam.”
Keesokan harinya,
Rista menghampiri Dinda yang sedang menagis di kamarya.
Rista : “Heh loe! Udah deh nggak usah pakek nagis
segala. Gue tahu gue salah, ok… sory sory! Ya emang selama ini gue kasar sama
loe, tapi sebenarnya gue nggak ermaksud untuk nyakirin loe. Loe nggak tau kan
perasaan gue gimana ? Gue tuh lebih sengsara dari loe. Tapi gue ngggak kayak
loe yang dikit-dikit nagis, dikit-dikit nangis. Sekali lagi gue minta maaf!”
Dinda :
“Kakak…”(Memeluk Rista)
Rista : “Udah … udah
…udah, sekarang mau loe apa?”
Dinda : “Kakak bener
nanya seperti itu sama aku?”
Rista : “Iya.”
Dinda : “Bener ya kak?”
Rista : “Iya iya.
Pakek nanya mulu lagi. Crewet banget sih!”
Dinda : “Aku cuma mau kakak sadar, kakak berubah,
kakak harus seperti kakak yang dulu. Kakak nggak boleh kasar. Satu hal lagi,
kakak harus minta maaf sama mama kakak!”
Rista : “Sebenarnya apa sih maksud loe ngomong
gitu?”
Dinda : “Kakak tau, Kakak itu beruntung masih punya
ibu yang sayang sama kakak. Sedangkan aku…kedua orang tuaku sudah tidak ada
kak, kalau perlu kakak sujud dihadapannya.”
Rista : “Menurut loe, buat apa sih gue lakuin itu ?”
Dinda : “Kakak. Semua ibu pasti merasa kecewa kalau
anaknya seperti kakak.
Kakak mau kan melakukan itu?
Demi mama kak!”
Rista : “Ya udah,
kakak lakuin itu. Kakak akan berubah.”
Dinda : “Teimakasih ya
kak! Aku sayang sama kakak!” (Memeluk Rista)
Satu
tahun kemudian, Ibu Lalak pulang dari luar negri. Ketika sampai di rumah,
kebetulan Bu Sari, Dinda, Rista dan kedua temannya sedang berkumpul di rumah.
Bu Lalak : “(Tok…tok…tok…)
Dinda
membukakan pintu dan Rista segera melihat siapa yang datang.
Rista : “Mama..!” (Memeluk ibunya
dan langsung bersujud di hadapannya)
Bu Lalak : “Sudah-sudah nak,
berdiri!”
Rista : “Ma, maafin aku selama
ini. Aku sudah buat mama kecewa.
Aku
minta maaf Ma!”
Bu Lalak : “Iya iya. Sudah nak,
Mama sudah memafkan kamu dari dulu.”
Rista : “Benar Ma?”
Bu Lalak : “Ya.”
Rista : “Makasih ya, Ma!”
Ibu Sari : “Rista, kok mamanya
nggak diajak duduk?”
Rista : “Oh ya. Maaf Bu, aku
sampai lupa.
Silakan
duduk, Ma. Mama mau minum apa?’
Bu
Lalak : “Suda, nggakusah repot-repot, mama nggak haus kok. Kalian disisni saja,
Mama sudah senang kok. Ibu Sari, saya mengucapkan terimakasih pada Ibu. Ibu
sudah menjaga anak saya.”
Ibu
Sari : “Justru bukan saya Bu, yang membuat Rista seperti ini. Tapi Dindalah
yang menyadarkannya.”
Bu
Lalak : “Terimakasih ya nak. Tante bangga sama kamu!”
Dinda
: “Ya, sama-sama tante.!”
Rista
pun kembali patuh dengan ibunya, dan Dinda juga diangkat menjadi anak oleh Ibu
Lalak. Akhirnyapun mereka hidup bahagia selamanya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar