Sabtu, 02 Juni 2012

Maling


Maling

(Setting tempat halaman rumah di sebuah kampung. Waktu malam hari. Dari luar terdengar suara gaduh derap langkah orang berlari sambil berteriak maling diiringi musik pembuka. Lampu fade in. Seorang Maling masuk, panik. Kemudian ia menyembunyikan bungkusan curiannya di semak-semak. Kemudian ia berlari sembunyi. Lalu warga masuk panggung berlari dari salah satu sisi dan langsung keluar di sisi yang lain. Kemudian mereka kembali sambil mencari-cari.)
Lurah                      : Cari sampai dapat! Tadi larinya ke arah sini.
Seseorang               : Tapi kok hilang, Pak.
Lurah                      : Ya kalau begitu pasti ada di sekitar sini. Nggak mungkin jauh. Begini saja, kita berpencar saja.
Seseorang               : Baik pak.
(Tidak lama kemudian, Seseorang datang dengan terengah - engah)
Seseorang               : Pak, Lapor.
Lurah                      : Bagaimana?
Seseorang               : Sudah saya cari, tetapi masih belum dapat ditemukan.
Lurah                      : Bagaimana ini
 (Tak lama kemudian Seseorang dan Seseorang masuk dengan tergopoh - gopoh)
Seseorang               : Pak, ada berita penting..
Seseorang               : Iya, Pak.
Lurah                      : Ada apa?
Seseorang               : Tadi saya bertemu dengan Mas Poniman, katanya, mulai sekarang kita tidak perlu bingung kalau mau ngambil TV, kulkas, atau motor. Cukup dengan KTP saja kita bisa kredit TV lho, Pak. Bayangkan. Biasanya harus pakai BPKB atau sertifikat tanah, ya kan, Mbak?
Seseorang               : Benar, Pak. Apalagi cicilannya juga murah. Motor hanya 50 ribu per bulan. Kulkas dua pintu hanya 30 ribu perbulan. Apalagi TV hanya dua puluh ribu per bulan. Dan semua tanpa jaminan
Lurah                      : Apakah itu benar ?
Seseorang               : Benar
Seseorang               : Iya, Pak. Jangan-jangan dia malingnya
Lurah                      : Jangan gegabah dulu.
Lurah                      : Tenang, tenang dulu. Kita lihat baik-baik dulu. (mengetuk pintu rumah)
Seseorang               : Lho, bener kan, Pak?
Lurah                      : Bener apanya?
Seseorang               : Ya pasti dia. Lihat dia sekarang pasti ketakutan di dalam.
Seseorang               : Benar, Pak. Kita dobrak saja pintunya.
Lurah                      : Tenang, tenang dulu.
 (Maman tiba-tiba muncul dari luar panggung)
Maman                    : Hoi,  ada apa ini?
Lurah                      : Lho, Maman? (pada warga) maaf. Tadi kita sedang mengejar maling.
Maman                    : Lha terus kok pada nggrumbul di depan rumah saya ada apa?
Lurah                      : Tadi malingnya lari ke sekitar sini
Seseorang               : Lho, itu kan sandalku yang beli di luar negeri ?
Lurah                      : Sudah, sudah. Kita tadi mau cari maling uang, bukan maling sandal.
Maman                    : Lho, jadi, ini tadi bukan dalam rangka mencari saya ?
Seseorang               : Sekarang aku yang nyari kamu.
Lurah                      : Hei! Hei! Stop! Kembali! Apa-apan kalian?
(Lalu Maman masuk kedalam rumahnya dengan gugup dan menutup pintunya)
Seseorang               : Bagaimana kalau kita periksa rumah Maman !
Seseorang               : Baik saya setuju.
 (Warga masuk semua. Tak berapa lama kemudian Mereka keluar dengan membawa seseorang yang berpenampilan seperti Maling. Yang lain membawa rantang, pakaian, pentungan, senter dan hasil “curian” lainnya yang ada di dalam rumah Maman)
Seseorang               : Akhirnya, kamu kena juga ya.
Seseorang               : Jadi selama ini dia sembunyi di dalam rumah Maman.
Seseorang               : Maman sialan. Jadi selama ini dia yang menyembunyikan maling ini.
Seseorang               : Selain itu ternyata dia yang mencuri pakaian kita selama ini. Lihat ini, ini semua pakaianku yang hilang.
Seseorang               : Ini juga perlengkapan Hansipku ada di sini.
Seseorang               : Langsung hajar saja.
Lurah                      : Tenang dulu, kita lihat dulu bagaimana wajahnya. (ketika penutup wajah Maling dibuka, ternyata orang tersebut adalah Maman dengan mulut tersumpal dan tangan terikat.)
Lurah                      :Lho, jadi kamu malingnya?
Maman                    : Bukan, Pak. Ini salah paham. Tadi ada orang yang mengikat saya.
Seseorang               : Alasan! Sekali maling tetaplah maling.
Lurah                      : Sudah lebih baik ayo kita serahkan pada pihak yang berwajib.
(Akhirnya mereka bubar dengan damai)




Tidak ada komentar: